Jepara – Lebaran atau hari raya tanpa petasan dan kembang api ibarat sayur tanpa garam. Oleh karena itu di sejumlah pasar tradisonal dan juga tempat keramaian lainnya terlihat pedagang kembang api dan petasan menggelar daganganya untuk mendapatkan keuntungan di moment hari lebaran ini.

Kembang api yang dijajakan beraneka ragam dari kembang api sederhana sampai dengan yang dapat bersuara dan meledak diudara seperti halnya kembang api di keramaian ibu kota. Untuk petasan yang dijajakan saat ini adalah petasan jenis cabe rawit ( kecil-kecil ) yang suara tidak begitu keras dan cukup aman bagi anak-anak.

“ Untuk petasan jenis besar sudah beberapa tahun ini saya tidak berjualan , selain membahayakan juga larangan kami takut digaruk polisi. Yang saya jual ini adalah kembang api dan petasan yang dijual dimana-mana kalau tidak salah produk dari China . Jika terdengar suara petasan besar dikampung-kampung itu biasanya mereka membuat sendiri dengan meramu bahan pembuat petasan sendiri “ ujar salah seorang penjual kembang api musiman di pasar desa Karangaji kecamatan Kedung kabupaten Jepara belum lama ini

20150714_104917

Dikatakan , penjualan kembang api dan petasan mulai ramai 7 hari sebelum hari raya Idul Fitri hal iti disebabkan anak-anak mulai menerima angpao dari saudara-saudaranya yang pulang kampong dari merantau. Selain itu kebutuhan orangtua mereka akan persiapan lebaran seperti membeli pakaian baru ,beli beras untuk zakat dan juga panganan untuk hari lebaran sudah terpenuhi .

Sehingga jika ada kelebihan rizeki biasanya untuk menyenangkan anak sekaligus memeriahkan hari raya dengan menyulut kembang api dan membunyikan petasan. Oleh karena itu sebelum hari raya tiba mereka berbondong-bondong menuju pasar tradisioanal di desa maupun dikota dengan berbelanja kembang api dan petasan .

Kembang api atau petasan biasa dibunyikan ketika malam menjelang hari raya dengan menggelar takbir keliling kampung , mengarak maket masjid , burok dan lainnya dan disela-sela arak-arakan tersebut terlihat kilatan cahaya kembang api dan serunya suara petasan.

“ Wah lebaran tanpa kembang api dan petasan rasanya garing , oleh karenanya sebelum hari raya tiba anak-anak disini sudah menyimpan kembang api dan petasan untuk persiapan malam takbir. Dahulu sebelum ada larangan petasan warga disini banyak yang membuat petasan besar-besar sehingga suaranya bisa terdengar dari jauh biasanya dibunyikan menjelang buka puasa dan imsak .Namun sekarang tradisi itu berganti dengan membunyikan sirine lewat pengeras suara di masjid- masjid “,ujar Mashuri tukang ojek yang mangkal di pasar baru desa Kedungmutih Wedung Demak

20150714_104852

Memang hari raya tanpa kembang api rasanya garing ,sehingga momen ini dimanfaatkan oleh sebagian pedangang untuk menangguk keuntungan menjelang hari raya itu ,sehingga merekapun menjual berbagai jenis kembang api dari yang biasa sampai yang mewah jika dilihat .

Harganyapun bervariasi dari yang hanya 5 ribuan sampai dengan 100 ribuan yang mereka tata rapi sehingga enak dilihat . Selain itu pula mereka juga menjual petasan yang bisa berbunyi di darat maupun di udara , harganyapun bervariasi dari 10 ribuan perpaknya sampai dengan 50 ribu perpaknya tergantung dari jenis petasan.

Menurut beberapa pedagang yang ditemui puncak pembelian kembang api maupun petasan ini terjadi mulai H-7 sebelum hari raya sampai dengan H-1 ,biasanya jika ramai H-1 semua dagangannya habis . Namun jika pada hari raya kembang api dan petasan belum habis maka pada H+7 setelah hari raya masih ada keramian lagi yaitu Badha kupat yang juga dimeriahkan oleh warga pesisir dengan pesta Kupat dan lepet yang juga disertai dengan pesta kembang api dan petasan.

Memang hari raya tanpa keramaian kembang api dan suara petasan kelihatan kurang meriah , oleh karenanya meskipun petasan merupakan larangan nyatanya di setiap hari raya atau lebaran masih banyak orang yang membunyikannya. (Muin)