Demak – Ada tradisi jaman dahulu yang kini masih dilestarikan berkaitan dengan mencukur bayi. Bayi yang dilahirkan oleh ibunya dari dalam kandungan hampir semua sudah tumbuh rambutnya. Ada yang tebal ada juga yang tipis. Adapun mencukurnya tidak sembarang dicukur namun ada ritual tertentu agar si bayi lepas dari mara bahaya .

Adapun pencukurnya tidak sembarang tukang cukur. Namun ada orang tertentu yang melaksanakan pencukuran bayi. Biasanya adalah para dukun bayi yang memang sudah dibekali dan juga mempunyai ketrampilan untuk hal ini. Waktu pencukurannya juga menunggu waktu yang tepat sesuai adat dan tradisi.

“ Yang lazim dilakukan pencukuran bayi dilakukan ketika umur bayi berusia selapan atau 36 hari. Nah setelah selapan ini bayi bisa dilakukan pencukuran. Selain itu biasanya dilakukan upacara “Nyelapani “ dengan mengadakan selamatan “, ujar mbah Kotiah dukun bayi asal desa Kedungmutih pada kabarseputarmuria.

9

Kotiah mengatakan , mencukur bayi harus hati-hati karena kepala bayi masih rentan benturan benda keras. Selain itu alat cukurnya diusahakan yang tajam sehingga sekali kerok rambut bisa bersih. Agar hasilnya maksimal diusahakan bayi tidak banyak bergerak. Dalam posisi tidur bayi lebih nyaman di cukur.

“ Kulit bayi masih halus jadi cara mencukurnya harus hati-hati benar. Jangan sampai kepala bayi ada yang terluka . Lama tidak mengapa yang penting hasilnya bagus “, tambah Kotiyah.

Rambut-rambut hasil pencukuran bayi tersebut biasanya dikumpulkan dalam satu wadah dan dikeringkan. Setelah itu ditimbang untuk diketahui beratnya. Dari berat rambut itulah kemudian ketemu berapa uang yang harus dikeluarkan untuk sedekah . Rambut ditimbang ketemu 2 gram maka sedekah yang dikeluarkan setara 2 gram emas.

“ Kalau yang tradisi timbang rambut disini sudah tidak ada lagi. Rambut-rambut hasil pencukuran itu selanjutnya dijadikan satu dan dikubur bersama ari-ari dan potongan tali puser “, kata mbah Kotiah.

Dalam rangkaian upacara cukur bayi itu juga dilaksanakan acara aqiqoh . Yaitu menyembelih kambing sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Kambing setelah dipotong dibuat gulai , setelah dido’akan gulai kambing itupun dibagikan kepada tetangga, sahabat dan kerabat.

Menurut K. Maftukhin asal desa Kedungmutih, tradisi aqiqoh merupakan ajaran nabi yang telah dijalankan sejak dulu. Biasanya untuk anak perempuan menyembelih satu ekor kambing . Sedangkan bayi laki-laki menyembelih 2 ekor kambing.

“ Bayi yang dilahirkan ibunya dari kandungan sebelum di aqiqohi , belum bisa memberi manfaat bagi kedua orang tuanya. Jadi bila mempunyai rezeki bersegeralah untuk di Aqiqohi “, tambah Ustadz Maftukhin. (Muin)