Rokok Kretek adalah warisan budaya, tak ubahnya warisan budaya lain seperti batik. Ramuan tembakau dan cengkeh ini pertama kali ditemukan oleh warga Kudus, haji Djamhari pada tahun 1980. Sebuah budaya asli Indonesia… Industri rokok kretek di Kudus tak lepas dari sosok Haji Djamhari yang meninggal pada tahun 1980. Dari ketidaksengajaan yang dilakukan, kemudian berkembanglah industri rokok kretek seperti sekarang. Alkisah karena deraan penyakit dada yang menyesakkan napasnya, ia mencoba mengoleskan minyak cengkeh pada dada dan punggungnya. Sekalipun tidak sembuh betul, napasnya dirasakan tidak sesak seperti sebelumnya.

Dari pengalaman tersebut, Djamhari mencoba cara lain lagi yakni dengan cara mencampurkan rempah-rempah itu pada rokok yang diisapnya. Cengkeh yang ia rajang halus docampurkannya dengan tembakau yang ia linting menjadi batang rokok. Berkat rokok campuran cengkeh rajangan itu, H Djamhari kemudian terbebas dari sesak napasnya. Sukses percobaannya pun cepat menyebar kemana-mana. Banyaknya permintaan akan rokok dengan campuran cengkeh memaksa Djamhari membuat dalam jumlah besar. Sejak masa itulah kemudian industri rokok terlahir. Dan rokok cengkeh yang saat diisap menimbulkan bunyi kretek-kretek karena cengkeh yang terbakar, khalayak kemudian menyebut rokok tersebut sebagai rokok kretek.

Sejarah M Nitisemito

Industrialisasi rokok kretek di Kudus ditandai dengan munculnya raja-raja kretek pada tahun 1900-an. Salah satu tokohnya yang melegenda adalah Nitisemito yang terkenal dengan produk rokok kretek cap “Bal Tiga”.Perkembangan rokok kretek di Kudus tidak terlepas dari peran M. Nitisemito. M. Nitisemito adalah pemuda yang cerdas, ulet dan takarruf, mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Sifat-sifat inilah terutama yang kelak membawa dirinya ke puncak ketenaran, sebagai seorang Raja Kretek. Sebelum memproduksi rokok, Niti Semito adalah carik Kampung Djanggalan, kemudian berniaga di Mojokerto dan akhirnya kembali ke Kudus berdagang batik dan membuka warung di rumahnya (Jl Sunan Kudus 120), yang menyediakan selain kebutuhan hidup sehari-hari juga bahan baku rokok kretek yaitu tembakau, klobot (daun jagung) dan jinggo/ benang. Menjelang tahun 1905, karena rokok kretek buatannya dikenal sangat enak, maka Niti Semito membuat rokok kretek berdasarkan pesanan sahabat-sahabatnya.

Asal Mula Produksi Rokok

Tahun 1908 perusahaan Nitisemito baru mendapat ijin dari Pemerintah Hindia Belanda dengan merk Bola Tiga ( Bal tiga ). Tahun 1909 Nitisemito mulai membuat rokok kretek dan di tahun inilah sebenarnya rokok kretek tumbuh menjadi industri, meskipun masih berupa industri kecil yang dikerjakan Nitisemito dan keluarganya. Untuk pertama kalinya rokok kretek dijual tanpa bungkus dengan harga 2,5 sen seikat untuk 25 batang ukuran kecil dan 3 sen seikat untuk 25 batang ukuran besar. Kemudian dilekati dengan merk Soempil ( driehoek, segitiga ) kemudian diganti dengan merk Jeruk / Djeruk sampai akhirnya diganti merk MNiti Semito dengan gambar 3 lingkaran yang dikenal dengan nama Bal tiga, Bal Teloe, Bola Tiga, Tiga Bola, Boender Tiga, Boender Telu. Rokok kretek berkembang dari industri kecil menjadi besar ketika M. NITI SEMITO mendirikan “Kretek Sigaretan Fabrik M. NITI SEMITO KOEDOES” di kampung Djanggalan Kudus, kemudian membuat lebih banyak rokok kretek dan mengirimkannya ke Semarang.

Berkembangnya Produksi Rokok

Awal tahun 1914 industri rokok kretek dari industri besar melonjak menjadi industri raksasa yang melibatkan ribuan tenaga kerja. Kesuksesan yang diraih M.NITI SEMITO ini kemudian banyak ditiru orang, sehingga antara tahun 1915 -1918 bermunculan ratusan pabrik rokok kretek yang baru tidak hanya di Kudus tetapi juga di Semarang, Surabaya, Blitar, Kediri, Malang, dll. Mulai saat itu industri rokok di Kudus mulai berkembang pesat, pada tahun 1989 ada sekitar 32 unit usaha rokok. Dari sekian banyak perusahaan rokok, yang terbesar adalah PT Djarum ( didirikan pada tahun 1951 ), PT Nojorono ( didirikan tahun 1932 ), PR Sukun ( tahun 1949 ), Jambu Bol ( didirikan tahun 1937 ).
Sayang perusahaan yang dikelola dengan manajemen modern melampaui sistem manajemen di Nusantara saat itu masih amat sederhana, kini tinggal nama. Cuma sejarahnya yang masih tersisa. Jejak sepak terjang Nitisemito dengan rokok cap Bal Tiganya tidak sulit dilacak. Sebutlah salah satunya yakni Omah Kembar yang hingga kini masih cukup kokoh bertengger. Disebut omah kembar karena arsitektur dua rumah tersebut sama persis. Omah kembar yang juga disebut istana kembar terdapat di Jalan Sunan Kudus atau berada di timur dan Barat Kali Gelis yang seakan menjadi pemisah antara wilayah Kudus Kulon dan Kudus Wetan.
Rokok kretek sebagai sebuah budaya hingga kini tak hanya tinggal nama atau cuma jejak sejarah. Ia masih saja menjadi bagian dari kehidupan ratusan ribu warga Kudus dengan segala dinamikanya. Realitas keseharian tersebut seakan menjadi bagian dari panorama Kota Kretek. Budaya yang terbukti dan mampu secara terus menerus menjadi saksi dan menjadi wahana interaksi yang saling menopang antara warga yang satu dengan lainnya. Budaya kretek tanpa dirasa telah dapat menumbuhkembangkan peran masyarakat dalam menyulam kedinamikaan.

{ Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus}

 

Sumber : KUDUSNEWS

HAJI ATAU UMROH NYAMAN DAN LANCAR  BERSAMA KBIH  ” AL-FIRDAUS ” JEPARA Hubungi 085 290 375 959 

TOKO BUKU DAN KITAB ONLINE

BUKU PRIMBON LENGKAP

TOKO BUKU DAN KITAB SUPER LENGKAP

ALAT TAMBAL BAN ELECTRIC

ALAT TAMBAL BAN BAKAR SUPER CEPAT

MENCUCI TANPA SABUN  SUPER HEMAT 

MAINAN MURAH SERBA 1000 RUPIAH