Jepara –Desa Merdeka : Kartu BPJS kesehatan saat ini menjadi salah satu kartu sakti bagi warga yang sakit . Dengan kartu itu warga bukan pemegang kartu Jamkesmas atau Askes bisa dilayani setara oleh Rumah Sakit dimanapun berada. Oleh karena itu animo warga yang ingin memiliki kartu BPJS kesehatan semakin lama semakin tinggi. Akibatnya ada antrian panjang dalam pengurusan kartu itu.

“ Saya memang berangkat dari rumah mruput agar dapat nomor antrian. Setiap hari paling banter hanya melayani 100 orang. Kemarin saya harus kembali karena nomor antrian habis “, aku Munif (30) warga desa Geneng kecamatan Bate Alit pada FORMASS, Rabu (10/9).

Munif mengatakan , dia berangkat dari rumah sekitar pukul 6 pagi langsung mengambil antrian meskipun kantor buka jam 8 pagi. Berkas-berkas yang dibawa diantaranya Formulir pendaftaran , foto copy KTP , Foto Copy Surat Nikah dan juga 3X4 2 lembar. Dia mendaftarkan dirinya dan juga istrinya.

“ Karena belum punya anak saya mendaftarkan dua kartu saya dan juga istri. Kartu ini untuk jaga-jaga istri yang menunggu proses kelahiran. Meski masih 2-3 bulan namun ini untuk persiapan agar besok tidak repot “ aku Munif .

Bayar Premi 3 bulan di depan

Menurut Munif pengurusan kartu BPJS tidak sulit , setelah semua data dimasukkan kemudian diteliti oleh petugas. Data kemudian diinput ke dalam computer . Setelah itu keluar nomor rekening premi yang harus di bayar ke bank BRI, BNI dan Mandiri. Selanjutnya dia membayar ke bank dan iapun kembali ke kantor BPJS untuk mencetak kartu BPJS.

“ Pembayaran premi langsung tiga bulan di depan , jadi kami tadi bayar Rp 255 ribu . Soalnya kami daftar kelas 2 preminya perbulan Rp 42.500 kali 6 setiap kartu bayar tiga bulan “, kata Munif.

Munif mengaku lega karena telah memegang kartu BPJS. Meskipun ia dan istrinya tidak sakit kartu itu untuk jaga-jaga bila sewaktu waktu dibutuhkan. Pendaftaran BPJS ini dalam satu KK menyatu sehingga dalam anggota keluarga semuanya harus mendaftar. Bila dalam anggota keluarga ada 5 orang harus daftar semua.

“ Tadi banyak pendaftar yang pulang karena salah persepsi. Dia datang sendiri padahal semua anggota keluarga harus mendaftarkan. Padahal uang yang di bawa pas-pasan jadi mereka pulang “, tutur Munif. (Muin)