Gus Ulil Abshar Abdalla (Sumber Foto : FB Gus Ulil)

Jakarta  – Kepergian atau Wafatnya Nyai Ishmah bagi Ulil Abshar Abdalla Cendikiawan NU yang merupakan keponakan Bu Nyai merupakan kesedihan yang mendalam. Apalagi kepergian beliau karena Covid . Oleh karena itu untuk meminimalisir kondisi saat itu. Gus Ulil dalam status FBnya berpesan kepada kita semua. Adapun kesan dan pesannya seperti tulisan di paragraph di bawah ini:

Malam ini saya mendapat kabar duka yang amat menyayat hati. Bulik saya, Bunyai Ishmah Ulinnuha, isteri dari Kiai Ulinnuha Arwani, pengasuh pesantren tahfidz yang besar di Kudus, Yanbu’ul Qur’an, wafat. Saya sedih luar biasa.

Beliau wafat karena Covid-19. Dalam beberapa hari ini, Bunyai Ishmah dan Kiai Ulinnuha dirawat di sebuah RS di Semarang karena Covid-19. Alhamdulillah, kondisi Kiai Ulinnuha sudah membaik dan kita doakan beliau sembuh total dari virus ini. Tetapi, yang menyedihkan, Bunyai Ishmah tidak tertolong.

Berita ini menambah kesedihan saya yang luar biasa karena dalam beberapa wakru terakhir ini beberapa kiai kapundhut, wafat, karena serangan Covid-19. Sudah ada sekitar 25 pesantren yang menjadi kluster penyebaran Covid-19, demikian menurut data dari RMI (ikatan pondok-pondok di lingkungan NU) beberapa waktu lalu. Saya khawatir, jumlahnya makin bertambah sekarang.

Menurut saya, ini kondisi yang sudah gawat dan menuntut kita untuk makin hati-hati. Oleh karena itu, saya menganjurkan beberapa hal berikut ini.

Pertama, hentikan sementara kegiatan sowan dan ziarah ke ndalem para rama kiai. Jika kita benar-benar mencintai dan menyayangi para kiai san masyayikh, maka wujud kecintaan kita itu adalah dengan menghentikan untuk sementara kegiatan sowan kepada beliau. Tunda sowan kiai sampai keadaan normal.

Umumnya, para masyayikh dan kiai ini sudah sepuh, dan tentu saja sangat rentan untuk tertular virus ini. Sementara yang sowan para kiai ini sebagian besar adalah orang-orang yang masih cukup muda umurnya, sehingga bisa saja mereka ini adalah pembawa virus dengan tanpa gejala alias OTG.

Kedua, jika karena keadaan yang memaksa kita bertemu dengan rama kiai, sebaiknya jangan berjabat tangan, apalagi cium tangan. Saya tahu, keinginan para santri mencium tangan kiai sangat besar, tetapi jika kita benar-benar menyayangi kiai, hentikan kegiatan mencium tangan kiai untuk sementara waktu.

Ketiga, kita sebaiknya menghentikan atau mengurangi untuk sementara waktu acara-acara yang mengundang keramaian dan berkumpulnya para jamaah. Acara walimah pernikahan tetap bisa dilaksanakan, tetapi tolong jangan mengundang rama kiai dan bunyai, untuk sementara waktu. Untuk tabarrukan, cukup diberikan kabar saja kepada beliau seraya meminta doa dan pangestu.

Kebiasaan baru ini harus kita jalankan sampai beberapa bulan, mungkin bahkan setahun mendatang, hingga keadaan benar-benar normal dan kurva Covid-19 melandai di Indonesia.

Para santri yang kebetulan sudah balik ke pesantren, mereka harus dijaga dengan ketat, dengan menerapkan protokol kesehatan yang standar. Sebaiknya, pesantren tidak mengisi ruangan yang tersedia secara penuh. Jika bisa, diusahakan, kapasitas dikurangi hingga separoh atau malah lebih rendah lagi, sehingga memungkinkan adanya penjarakan.

 

Para sedherek, keadaan pandemi di negeri kita dalam minggu-minggu ini sedang dalam kondisi yang amat memburuk. Kita harus ikhtiar sebaik dan semampu mungkin untuk menghindarkan diri dari pandemi ini. Selebihnya, kita serahkan kepada Allah.