PANGENAN, AYOCIREBON.COM— Anjloknya harga garam di tingkat petani menyebabkan para petani garam di Kabupaten Cirebon beralih profesi. Bila tidak, mereka tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Saat ini, harga garam sekitar Rp250 per kilogram (kg). Harga ini hanya bertahan sekitar dua pekan belakangan. Pada bulan yang sama di tahun lalu, harga garam antara Rp800-Rp1.000 per kg. mencemaskan kemungkinan harga garam mencapai titik terendah hingga Rp100 per kg saat panen raya yang diperkirakan berlangsung pada September-Agustus mendatang.

Harga garam yang berada pada titik rendah, ditambah stok melimpah akibat tak terjual membuat sejumlah petani garam bahkan meninggalkan profesi aslinya. Mirisnya, sebagian di antara mereka terpaksa berutang atau menjual garamnya dengan harga sangat rendah demi hidup sehari-hari.

“Banyak petani garam yang kasbon kepada tengkulak. Dijual garamnya berapa saja asal laku dan bisa makan, mau bagaimana lagi,” kata seorang petani garam asal Desa Rawaurip, Kecamatan Pangenan, Kabupaten Cirebon, Ismail, Jumat (26/7/2019).

Selain berutang atau menjual garam dengan harga sangat murah, beberapa petani garam kini sudah tak lagi menggarap lahannya. Mereka yang mengambil keputusan ini kemudian beralih profesi sebagai penarik becak, kuli bangunan, berdagang kecil-kecilan, dan sebagainya.

“Sudah ada petani yang meninggalkan (menggarap lahan) karena mereka menggarap lahan milik orang lain atau pakai sistem bagi hasil. Kalau diteruskan, tak menghasilkan apa-apa,” tuturnya. Menurutnya, harga garam kerapkali rendah di tingkat petani sebab selama ini belum ada standardisasi harga, seperti halnya gabah. Para petani garam pun berharap pemerintah memiliki kebijakan atau kebijaksanaan bagi mereka agar kondisi ini secepatnya pulih.

———
Artikel ini sudah Terbit di AyoCirebon.com, dengan Judul Berutang Hingga Menarik Becak, Ini yang Dilakukan Petani Kala Harga Garam Anjlok, pada URL https://www.ayocirebon.com/read/2019/07/26/2992/berutang-hingga-menarik-becak-ini-yang-dilakukan-petani-kala-harga-garam-anjlok

Penulis: Erika Lia
Editor : Ananda Muhammad Firdaus