Jepara  – Pendidikan merupakan sebuah kebutuhan yang penting bagi semua orang. Pendidikan sebagai usaha sadar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup atau  untuk kemajuan yang lebih baik. Secara sederhana, Pengertian pendidikan adalah proses pembelajaran bagi peserta didik untuk dapat mengerti, paham, dan membuat manusia lebih kritis dalam berpikir.

Permasalahan di era ini sangatlah banyak mengenai pendidikan. Dengan teknologi yang lebih canggih dan zaman yang semakin berkembang banyak sekali perubahan yang ada terhadap kondisi pendidikan. Sekarang ini, banyak yanggi menggunakan gadget atau android, dan itu tidak hanya dari kalangan tertentu saja yang menggunakannya tetapi dari semua lapisan masyarakatpun menggunakannya.

Entah itu anak-anak, remaja, orang dewasa, lansia, petani, Pejabat, nelayan, buruh semua banyak yang sudah memakai media elektronik ini. Mirisnya anak-anak zaman sekarang berbeda dengan anak zaman ’90 an. Dimana dulu anak-anak mainnya hanya sekedar petak umpat, kelereng, layang-layang dan lain sebaginya. Permainan tradisional yang sangat banyak dan mendidik moral anak-anak.

Berbeda dengan zaman sekarang, anak kecil mainannya sudah game-game online yang ada di gadget. Tidak lagi bermain layang-layang di sawah ataupun kelereng. Setiap saat yang di pegang gadget, entah itu bermain game ataupun menonton video. Banyak anak yang sudah kecanduan gadget, hingga tidak bisa lepas darinya. Pertamakali ketika bangun tidur yang di cari gadget, pulang sekolah gadget, setelah magrib gadget, mau tidur juga gadget. Hingga hari-harinya dipenuhi dengan gadget. Dengan demikian orang tua harus mengawasi dan membatasi anaknya dalam Penggunaan gadget. Peran orang tua sangat penting demi keselamatan anaknya.

Gadget memang memiliki banyak dampak positif bagi penggunanya, disamping itu juga memiliki sisi negatif yang harus di hindari. Banyak kerugian yang besar jika penggunanya adalah anak-anak yang sejak kecil sudah dibiasakan orangtuanya bermain gadget. Bagaimana tidak, jika anak sedari kecil (belum masuk bangku sekolah) sudah terbiasa bermain gadget, ketika ia masuk sekolah dia  juga terbiasa bermain.

Sehingga proses belajarnya tergaganggu dengan ketergantungannya bermain gadget. Pertumbuhannya terganggu dalam memahami hal-hal baru yang yang diajarkan guru-gurunya. Kasus yang saya temui disekitar saya, akibat dari kebiasaan di manja oleh orangtuanya dan dibiarkan dalam bermain gadget anak tersebut telat dalam proses belajarnya.  Sampai lulus dari TK dan masuk SD belum bisa membaca dan berhitung. Guru dan orangtuanya bingung mengahadapi anak tersebut Karena pertumbuhannya sangat beda dengan teman-temannya.

Saat dirumah, orangtuanya berusaha menjauhkannya dari gadget dan mengajarinya belajar dan berhitung, tatapi anaknya tidak kunjung ada perkembangan. Semakin hari anak tadi malas belajar, dan orangtuapun malas untuk membimbingnya. Bagaimana tidak, setiap kali diajak belajar, selalu dihiraukan dan lagi-lagi kembalinya pada game online serta video di youtube.

Anak korban gadget ini di kelas menduduki peringkat 5 terbawah. Setiap malam tidak pernah belajar dan selalu bermain gadget. Selain telat dalam membaca dan berhitung ia juga telat dalam mengaji. Jika di ajak pergi ngaji selalu tidak mau dan lebih memilih gadgetnya. Dalam kasus ini orangtua memiliki andil yang cukup besar untuk menjauhkan anakanya dari gadget.

“Orang tua harus pandai merayu anaknya agar bisa diajak negoisasi. Contohnya gini antara anak dan orang tua sudah membuat kesepakatan, mana waktunya belajar, mengaji dan main gadget. Saat anak sedang belajar gadgetnya harus disimpan begitupun dengan orang tuanya. Pokoknya kalau jam anak tidak boleh menggunakan gadget orang tua juga sebisa mungkin tidak menggunakan gedget” begitu tutur Ibu Nurul yang putranya ketergantungan dengan gadget.

Meskipun demikian terkadang anak masih saja bisa nyolong-nyolong dalam bermain gadget. Dan bahayanya lagi gara-gara sering main gadget anak-anak kecil zaman sekarang sudah banyak yang berkaca mata.

Tidak sedikit dari para pencandu gadget terutama anak-anak yang terkena gangguan mata minus. Semua itu kembali lagi pada peran orang tua dalam mendidik anak dirumah. Dan juga nasihat yang diberikan guru disekolah  .

“Kalau saya ya mbak, mewajibkan anak-anak bermain gadget dengan posisi duduk. Jika tidak mau duduk saya tidak akan mengizinkan dia untuk main gadget. Begitupun dengan jarak pandangnya mereka harus tegap tidak boleh terlalu dekat dengan gadget”.

Lagi-lagi semua tergantung pada pola asuh orang tua  sebisa mungkin orang tua juga harus mengawasi apa yang dibuka dan dimainkan oleh anak, agar tetap aman dan tidak terjadi sesuatu yang tidak orang tua inginkan.( Dian Puji Rahayu )