blogdesa.id

Yuk Berkunjung Ke Desa Wisata Plajan Jepara

Jepara –  Desa Plajan merupakan salah satu Desa Wisata di Kabupaten Jepara, tepatnya di kecamatan Pakis Aji. Desa Plajan berada disebelah timur ibu kota kabupaten yang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Pakis Aji dengan jarak tempuh ke ibu Kota Kecamatan kurang lebih 5 KM dan ke Ibu Kota Kabupaten kurang lebih 22 KM dapat ditempuh dengan kendaraan kurang lebih 30 menit.

GOA SAKTI

Goa  yang terjadi secara alami ini, sampai pada saat sekarang belum ada yang mampu memprediksi sejak kapankah terjadinya lubang itu, hanya dalam legenda yang menjadi cerita rakyat bahwa lubang tersebut adalah tempat Mbah Langkir bertapa sampai akhir hayatnya (Moksa) hilang jiwa dan raganya। Maka lubang tersebut diberinama Goa Langkir.
Seiring berjalannya waktu Goa itu juga pernah jadi tempat bersarangnya kelelawar (Lowo) dengan jangka waktu yang cukup lama maka para pendatang kemudian memberi julukan Guo Lowo (Goa Kelelawar), dan juga pernah dihuni oleh sekelompok Burung Dadali namun waktunya relatif singkat.
Kenapa sekarang dinamakan Goa Sakti, Singkat cerita pada kala itu ada seorang seniman yang bernama Mbah Kartawi dia adalah salah satu seniman Emprak Dan Reog Barongan Desa Plajan yang pada masanya sangatlah tersohor, konon setiap kali mau ada pentas beliau selalu membawa barongannya ke Goa untuk disemedikan selama berhari-hari di dalam Goa tersebut, karena dengan disemedikannya barongan tersebut akan dapat menambah energi mistis bagi barongan itu sendiri dlm setiap kali pertunjukannya dan seolah-olah dapat membius para penonton hingga terbuai dalam pementasan barongan yang di adakan oleh Mbah Kartawi.
Dulu juga banyak orang-orang yang datang ke Goa tersebut guna melakukan ritual ( Ziarah ) pada saat mereka berziarah itu mereka melihat keanehan-keanehan yang terjadi di sekitar Goa, namun sekarang tidak lagi di gunakan sebagai mistis atau ziarah tapi sebagai Tempat wisata bersama keluarga inilah mengapa julukan-julukan atau nama-nama yang terdahulu tidak lagi dipakai dan diganti dengan nama Goa Sakti.

WANA AKAR SERIBU

Akar seribu adalah sebuah pohon karet yang sangat besar, dan memiliki lebih dari seribu akar. wana akar seribu terletak di desa plajan petir Rt25 Rw4 pakis aji Jepara. Pohon karet tersebu ditanam pada awal tahun 1931 oleh almarhum bapak sumani dikala umur 16 tahun. tujuan penanaman pohon karet tersebut adalah untuk menghindaru tanah longsor, penghijauan lingkungan, dan penanggulangan erosi banjir, serta untuk menghidupkan sumber mata air di daerah tersebut. Karena kemajuan dan perkembangan zaman tujuan tersebut bertambah, yaitu dijadikan obyek wisata yang sering kita kenal wana akar seribu. yang diharapkan memberikan suasana baru bagi pengunjung, yang akan menikmati lingkungan yang masih alami, sunyi indah, dan nyaman. Luas tempat wisata Akar Seribu 455 hektare (ha), dari luas desa 1.044 ha dijadikan tempat wisata.

Museum Gong Perdamaian Dunia

 

Induk berbagai peradaban di dunia hingga kini masih menjadi teka-teki. Berbagai teori juga sudah berusaha menyingkap misteri asal mula peradaban manusia ini.
Salah satu teori diungkapkan Presiden Komite Perdamaian Dunia, Djuyoto Suntani. Dia menyatakan, induk peradaban dunia berasal dari Bangsa Lemuria yang diyakini hidup di kawasan Gunung Muria, masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah. Menurut Djuyoto, 60.000 tahun sebelum Masehi, bumi masih berupa satu daratan.
Waktu itu, ada satu bangsa dengan peradaban besar, yakni Lemuria yang diyakini hidup di kawasan Gunung Muria, masuk wilayah Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Namun setelah itu, kata Djuyoto, muncul zaman es. Sekitar 40.000 sebelum Masehi saat zaman es Plestosen berakhir, gletser-gletser di kutub mencair, dan lelehan air pun menyebar ke daratan yang lebih rendah.
Setelah itu, kawasan yang semula satu daratan terpecahpecah, ada yang berubah menjadi pulau-pulau, laut, dan gunung. Bangsa Lemuria pun terpencar- pencar. Namun dari proses itu, munculah berbagai suku bangsa di dunia berikut peradabannya, seperti Peradaban Atlantis, Dravida, Maya, Aztek, Inca, Babilon, India, China, Mesir, Yunani, Romawi, Persia, Normandia, Viking dan lain sebagainya.
Meski terpencar-pencar, namun keturunan Bangsa Lemuria itu meninggalkan jejak di tempat barunya. Salah satunya yakni adanya nama Muria di berbagai tempat di dunia. Mulai dari Rajastan India, Agrego Yunani, New York USA, Jeniro Brazil, Mali Afrika dan lain sebagainya. Di kawasan Timur Tengah, persisnya antara Jerussalem- Palestina/Israel juga ada Bukit Moriah (Muria). “Ada banyak penelitian yang mendukung teori ini,” kata Doktor Filsafat Universitas Hebrew Jerussalem, Israel ini.
Terkait adanya perbedaan struktur wajah, fisik, warna kulit, bentuk rambut dan lain sebagainya, menurut Djuyoto hal itu dipengaruhi oleh kondisi cuaca, makanan dan faktor-faktor alam lainnya. Berdasar keyakinan induk peradaban manusia berasal dari Bangsa Lemuria, maka Djuyoto pun berinisiatif mencanangkan Jawa Tengah sebagai provinsi perdamaian.
Selain alasan tersebut, juga lantaran adanya keyakinan jika Jawa Tengah yang posisinya berada di tengah Pulau Jawa, merupakan paku-nya nusantara. Atau dengan kata lain, kondisi yang terjadi di Jawa Tengah merupakan cermin dari situasi Indonesia. Proses pencanangan dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo di Jepara pada akhir April ini.
Setelah Jawa Tengah tepatnya Desa Plajan dicanangkan sebagai “Pusat Peradaban Dunia”, Maka munculah ide membuat sebuah icon perdamaian dunia dengan bentuk gong. Karena di Desa Plajan terdapat Gong Keramat yang sudah berumur 450 tahun lebih, Gong tersebut merupakan metode dakwah milik seorang wali yang menyebarkan Islam di Jepara tepatnya di Plajan dan sekitarnya. sehingga jadilah Gong Perdamaian Dunia alias World Peace Gong. Gong yang telah di ciptakan di Plajan ada beberapa jenis yaitu: Gong Perdamaian Nusantara, Gong Perdamaian Asia-Afrika, Gong Perdamaian Dunia.

RUMAH KACA

Rumah Kaca sebuah ruangan yang tertutup kaca dan ini terdapat situs pusat bumi didalamnya terdapat kumpulan tanah dari 202 negara.

Ada juga situs air dari 99 sungai yang ada di dunia. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto berharap kawasan gong perdamaian dunia dan situs lainnya yang ada di Desa Plajan ini akan menjadi kunjugan wisatawan domestik maupun mancanegara

Sumber Fato dan Berita : JEPARA KITA

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply