blogdesa.id

Di Pati Pengemis Tewas Tinggalkan Uang dan Emas Bernilai Jutaan

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (KORAN MURIA / LISMANTO)

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (KORAN MURIA / LISMANTO)

PATI – Warga di Kecamatan Juwana dihebohkan dengan penemuan mayat mengapung di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). Yang menghebohkan, mayat yang ditemukan itu diduga sebagai pengemis, namun di dalam baju yang dikenakannya ditemukan uang jutaan rupiah, dan sejumlah perhiasan emas yang nilainya mencapai puluhan juta rupiah.

Tubuh korban ditemukan dalam keadaan telungkup dan mengambang di sungai, oleh seorang nelayan yang pulang melaut, sekitar pukul 08.00 WIB. Dari hasil identifikasi yang dilakukan petugas, mayat diketahui bernama Karno (73), warga Desa Trangkil, Kecamatan Trangkil.

“Dari hasil visum sementara, korban diduga tewas karena terpeleset ke sungai saat hendak buang air besar. Dari hasil pemeriksaan, ditemukan tiga luka, yaitu luka sobek pada kaki kanan dan kiri, serta bagian telapak kaki,” ujar dokter puskesmas setempat Widiyono.

Setelah diperiksa pihak kepolisian dan dokter, ditemukan sejumlah uang tunai yang nilainya jutaan rupiah. Selain itu, petugas menemukan 25 buah cincin emas dari dalam pakaian korban. Uang dan cincin emas tersebut saat ini diamankan petugas untuk sementara waktu, sembari menunggu pihak keluarga.

Penemuan mayat tersebut langsung menggemparkan warga setempat. Karena mayat tersebut diperkirakan sebagai pengemis, namun mempunyai uang yang sangat banyak. Warga di sekitar lokasi penemuan pun menyebutnya sebagai pengemis kaya.

Ditemukan Perhiasan dan Surat Resmi dari Toko Emas

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (KORAN MURIA / LISMANTO)

Petugas memeriksa mayat seorang pengemis yang diduga meninggal karena tenggelam di Sungai Juwana, Jumat (7/8/2015). (KORAN MURIA / LISMANTO)

Harta benda yang ditemukan dari tubuh korban terdiri uang koin Rp 100 hingga uang pecahan Rp 100 ribu di dalam saku baju dan celana korban. Petugas mengkalkulasi, uang tersebut mencapai Rp 3,4 juta. Tak hanya itu, petugas juga menemukan cincin emas lengkap dengan surat-surat resmi dari toko emas. Cincin-cincin emas tersebut ditaksir bernilai Rp 26 juta.

“Setelah diperiksa, ditemukan uang pecahan, mulai dari Rp 50 ribu, Rp 20 ribu, dan Rp 10 ribu. Semua pecahan uang kertas rupiah ada. Selain itu, pecahan uang koin, mulai dari Rp 100 hingga Rp 1.000 juga ada. Totalnya ada Rp 3.408.900,” terang Kanit Reskrim Polsek Juwana, Ipda Gunarso.

Banyaknya harta benda yang dibawa korban membuat banyak orang mengernyitkan dahi. Jika benar korban tersebut berprofesi sebagai pengemis, dari mana uang jutaan rupiah dan perhiasan emas sebanyak itu bisa didapatkannya.

Hal ini menguatkan dugaan banyak pihak bahwa sebenarnya banyak pengemis itu yang hanya berpura-pura, untuk mendapatkan belas kasih orang sekitar. Terbukti banyak pengemis di beberapa tempat yang saat tertangkap razia membawa uang yang cukup banyak.

“Bahkan kan pernah ada pengemis yang ketahuan membawa uang jutaan rupiah. Ya sama seperti korban ini,” kata Saifudin, warga Juwana, Pati.

Untuk mengetahui kebenaran informasi bahwa korban merupakan seorang pengemis, Koran Muria mencoba melakukan penelusuran ke kecamatan. Namun Camat Trangkil, Teguh enggan memberikan keterangan. Ia beralasan belum mendapatkan laporan dari pihak kepolisian.

Mengemis Jadi Komoditas Bisnis

Sementara itu, pengamat sosial dari Universitas Diponegoro (Undip) Semarang Hakim Alif Nugroho menyebut, banyaknya pengemis yang nyatanya seorang yang kaya, menunjukkan adanya perubahan fenomena sosial. Kalau dulu menurut dia, orang mengemis karena terpaksa, namun sekarang justru untuk komoditas bisnis.

“Peristiwa tersebut menjadi pembelajaran bersama bahwa fenomena sosial saat ini menunjukkan gejala yang berbeda dengan kondisi dulu. Kalau dulu mengemis itu terpaksa, sekarang mengemis dimanfaatkan sebagai komoditas bisnis yang menguntungkan,” kata pengamat asal Kabupaten Pati ini.

Pihaknya pun mengimbau agar masyarakat lebih jeli saat memberikan uang kepada pengemis, dan jangan hanya berlandaskan rasa kasihan semata. Masyarakat juga diimbau untuk menghentikan memberikan uang kepada pengemis atau peminta-minta di pinggir jalan, dan mengalihkannya ke warga yang benar-benar membutuhkan.

“Seperti menyalurkan sumbangan di lembaga-lembaga sosial, yang betul-betul disalurkan untuk fakir miskin, anak yatim dan lainnya. Jangan langsung memberi ke pengemis di jalanan,” pungkasnya.(LISMANTO / ALI MUNTOHA)

Sumber  :Koran Muria

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply