blogdesa.id

Yuk Kita Berwisata Ke Kota Kudus

Kota Kudus sejak dulu  dikenal sebagai kota kretek , karena sejarah adanya rokok kretek di Indonesia dimulai dari kota ini .  Niti Semito pribumi Kudus merupakan cikal bakal pendiri  industry rokok kretek yang saat ini menjadi salah satu industry terbesar di Kudus yang menyerap ribuan pekerja. Dari kota Kudus inilah setiap bulannya menyetor milyaran rupiah pemasukan kepada negara berupa cukai tembakau dari puluhan industry rokok yang terbesar di kota ini.

Selain di kenal sebagai kota kretek kota Kudus juga dikenal sebagai kotanya para wali karena di kota ini tepatnya di Desa Kauman Menara  satu dari wali songo yaitu Sunan Kudus di semayamkan disini dan setiap hari makam itu tiada sepi dari para peziarah yang datang dari penjuru pulau jawa , sebagian luar Jawa bahkan ada pula peziarah yang datang dari luar negeri. Makam Sunan Kudus atau Raden Ja’far Shodiq ini merupakan icon wisata ziarah di kabupaten Kudus , oleh karena itu pemerintah kabupaten Kudus menata tersendiri kawasan kota lama Kudus ini agar para peziarah nyaman . Diantaranya dengan memperbaiki jalan , menata pedagang kaki lima sampai dengan membangun tempar parkir yang luas yang menampung puluhan kendaraan.

Selain itu event-event tahunan juga diselenggarakan secara rutin , seperti pesta dandhangan dalam rangka menyambut datangnya bulan suci Ramadhan , dan juga event pembagian nasi jangkrik di tanggal 10 Asyuro dalam memeriahkan ritual bukak luwur sunan Kudus. Itu semua dilakukan agar kunjungan para peziarah ke kota ini semakin lama semakin banyak , selain itu pula dilakukan agar pezirah yang belum pernah ke kota Kudus ini dapat singgah di kota ini . Untuk menikmati kekhusukan berziarah dan juga keindahan kota kretek ini.

Kota Tua, Masjid dan Menara

Kudus merupakan kota tua yang menyimpan berbagai macam peninggalan sejarah diantara yang masih bisa kita saksikan saat ini adalah kemegahan Menara Kudus  ,  Masjid  “Al-Aqsa “ dan makam Sunan Kudus. Dari inskripsi dituliskan jika Masjid Kuno Kudus didirikan pada tahun 956 Hijriah atau tahun 1549 masehi . Yang mendirikan masjid ini adalah Ja’far Shodiq  dinamakan Masjid Al Aqsa atau Al- Manar dan kota tempat berdirinya mesjid ini disebut Al-Quds.  Sampai sekarang Masjid Kuno ini telah mengalami renovasi berkali-kali diantaranya pada tahun 1919 masjid yang dahulunya kecil dibongkar dan dilebarkan , namun demikian renovasi tersebut tidak membuang kayu-kayu lama. Pada tahun 1925 karena tidak dapat menampung  jamaah shalat Jum’at maka masjid ini ditambah serambi  yang lebih lebar , agar jamaah shalat jum’at tidak kepanasan tau kehujanan. Pada tahun 1933 Masjid ini juga mengalami renovasi kembali seiring dengan pertumbuhan warga , sehingga lawang kembar yang dahulunya bertempat di paling belakang atau diluar masjid kini didalam masjid . Selain itu pula Masjid direnovasi dengan menambah bangunan berupa kubah-kubah dengan arsitek ala Persia yang bisa kita lihat sampai sekarang.

Yang unik di depan Masjid “ Al Aqsha” Kudus ini berdiri bangunan kuno yang terbuat dari batu bata  merah tanpa semen namun meski usianya sudah ratusan tahun menara ini tetap kokoh menjulang tinggi sehingga menambah keindahan komplek Masjid Kudus ini. Dilihat dari arsitektur bangunannya , menara Kudus ini mirip candhi Jago di kota Malang yang merupakan pemakaman Raja Wisnu Wardhana yang dibangun tahun 1275 -1300 M. Menurut Ahli sejarah Menara Mesjid Kudus yang banyak berhiaskan piring keramik China ini memang mirip Candi yaitu tempat ibadah orang Hindu yang sebelum masuknya Islam orang Kudus memang banyak yang memeluk agama ini. Oleh Sunan Kudus agar mereka bersimpatik pada agama Islam maka selain Masjid sebagai tempat shalat lima waktu , juga di bangun menara yang berwujud Candi. Oleh karena itu di atas Menara yang cukup tinggi ini juga dibuat Bedhug dan kenthongan yang dibunyikan sebagai tanda masuknya waktu shalat lima waktu.

Lalu kapan dibuatnya Menara ini ? , beberapa sumber sejarah tidak dapat memastikan tepatnya menara berbahan baku tanah liat yang dibakar ini dibuat , tetapi ditiang atap bagian atas tertulis candra sangkala yang berbunyi “ Gapura Rusak Ewahing Jagad “ . Menurut tafsiran Prof. Soecipto Wiryosuparto Menara Kudus ini dibangun pada tahun 1609  M , karena Gapura (9) ,Rusak (0), Ewah (6) dan Jagad ( 1 ) . Dulu selain dilihat oleh para peziarah Menara Kudus ini dapat dinaiki , namun karena melihat kondisi yang semakin tua maka yang bisa menaikinya adalah orang-orang tertentu yang mendapat ijin dari juru kunci. Namun demikian sebagai obat penawar kecewa pemerintah Kudus telah membangun bangunan yang mirip menara Kudus ini dan setiap waktu dapat dinaiki oleh siapapun yang dinamakan Tugu Identitas Kudus. Adapun lokasinya tidak jauh dari Masjid Menara Kudus ke arah  Selatan , dari Tugu ini kita bisa melihat suasana kota Kudus dari atas.

Makam Sunan Kudus

Tujuan utama orang ke kota Kudus selain menikmati suasana kota yang asri biasanya sebagai rangkaian ziarah Walisongo atau banyak orang menyebut sebagai Tour De Walisongo. Ya di kota Kudus inilah salah satu Walisongo yaitu Sunan Kudus Raden Ja’far Shodiq di makamkan tepatnya di belakang Masjid Al Aqsha Menara Kudus. Setiap hari para peziarah yang datang ke makam ini mencapai ribuan orang yang datang dari berbagai penjuru , jumlah ini akan terus bertambah jika musim liburan sekolah tiba karena sekolah-sekolah tertentu menjadikan makam para wali ini sebagai ajang ziarah sekaligus berwisata mengisi liburan. Oleh karena itu jika musim liburan tiba jumlah kendaraan yang diparkir mencapai ratusan yang setiap hari berganti-ganti.

ika naik bis atau berombongan dari lahan parkir yang luas ini disediakan berbagai alat transoprtasi yang dapat dipilih oleh para peziarah atau wisatawan , ada ojeg sepeda motor , naik dokar , atau kendaraan angkutan khusus  dengan tarif sama. Perjalanan menuju ke makam Sunan Kudus cukup mengasyikan dengan pemandangan sudut-sudut kota Kudus tempo dulu yang masih dapat kita rasakan sampai sekarang . Pemandangan kota tua dengan bangunan kuno  dan juga gang-gang sempit dengan bangunan yang menjulang tinggi , setelah menikmati pemandangan kota tua selama kurang lebih 20 menit kita tiba di Komplek Masjid Menara Kudus dan juga Makam Sunan Kudus yang mashur berbaur dengan ratusan peziarah yang datang silih berganti.

Puas berziarah dan juga melihat keindahan Masjid Kuno peninggalan para wali ini kita bisa melanjutkan perjalanan ke Muria yaitu sebuah gunung yang juga menjadi mascot kabupaten Kudus , yang diatasnya juga bersemayam Raden Said Sunan Muria yang juga merupakan bagian dari Walisongo. Oleh karenaitu di musim liburan seperti ini makam Sunan Muria juga tidak pernah sepi dari peziarah , selain ngalap berkah pada sunan Muria para peziarah juga menikmati keindahan pemandangan gunung Muria yang asri dengan air terjun monthelnya ( akan kami tulis  tersendiri ).

Nah itulah sedikit info bagi para pembaca yang ingin mengisi waktu liburan anda sambil berwisata kita dapat berziarah menelusuri jejak para walisongo di Kota Kudus dan juga Gunung Muria. Sesampainya di kota ini anda jangan lupa menu masakan khas kota Kudus ada Soto Kudus , Lenthog Kudus dan juga oleh-oleh Jenang Kudus. ( FM)

Fatkhul Muin

Pengelola Blog : Pusat Informasi Masyarakat Pesisir (http: www.For-Mass.Blogspot.com

TOKO BUKU DAN KITAB ONLINE

BUKU PRIMBON LENGKAP

TOKO BUKU DAN KITAB SUPER LENGKAP

ALAT TAMBAL BAN ELECTRIC

ALAT TAMBAL BAN BAKAR SUPER CEPAT

MENCUCI TANPA SABUN  SUPER HEMAT 

MAINAN MURAH SERBA 1000 RUPIAH 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply